A.
Biografi Singkat Utsman bin Affan RA
Utsman bin Affan
bin Abil ‘Ash bin Umayyah bin Abdisy-Syams bin Abdi Manaf (574 – 656 M/12 Dzulhijjah 35 H) Pada kakeknya,
Abdu Manaf, nasabnya bertemu dengan nasab Rasulullah. Lahir enam tahun setelah
tahun gajah. Beriman melalui tangan Abu Bakr Ash-Shiddiq –Abdullah bin Abi
Quhafah–, dan termasuk as-sabiqunal awwalun. Tampan wajahnya, lembut kulitnya,
dan lebat jenggotnya. Utsman adalah sahabat Nabi Muhammad yang
termasuk Khulafaur
Rasyidin yang ke-3. Ia juga berjasa dalam hal
membukukan Al-Qur'an.
Ia adalah khalifah ketiga
yang memerintah dari tahun 644 (umur 69–70 tahun) hingga 656 (selama 11–12 tahun). Selain itu sahabat nabi
yang satu ini memiliki sifat yang sangat pemalu. Ia mendapat julukan Dzunnurain
yang berarti yang memiliki dua cahaya. Julukan ini didapat karena Utsman telah
menikahi puteri kedua dan ketiga dari Rasullah yaitu Ruqayah dan Ummu
Kaltsum.
Kisah Masuk Islamnya Ustman bin Affan RA
Ustman ra bercerita perihal ke Islamannya, "Ketika aku datang ke rumah, bibi ku Sa'adah
sedang duduk duduk, dan aku duduk berdekatan dengannya. Lalu dia mulai
mendakwahkan aku untuk masuk Islam. Pembicaraan bibiku ini amat menyentuh
perasaanku. Setelah bibiku meninggalkanku, aku pergi berjumpa dengan sahabatku,
Abu Bakar ra, untuk meminta nasihat. Abu Bakar memberitahuku bahwa apa yang
diperkatakan oleh bibiku itu semuanya adalah benar. Abu Bakar berkata bahwa
Muhammad saw adalah sesungguhnya pesuruh Allah, dan beliau memintaku untuk
mengambil seruan baginda saw. Ketika itu Rasulullah saw memasuki rumah dan aku
terus memeluk Islam." (Bayan Maulana Ihsan)
B.
Keistimewaan Utsman bin Affan RA
Berita Gembira Bahwa Beliau adalah Penduduk Surga
1. Rasulullah
bersabda:“Siapa
saja yang menggali Sumur Rumata maka untuknya surga.” Maka sumur tersebut digali oleh
Utsman.
2. Beliau
bersabda lagi:“Barangsiapa
yang mendanai pasukan ‘Usrah maka untuknya surga.”Maka Utsman bin
Affan mendanai pasukan tersebut.
Utsman, Sahabat yang Pemalu
Imam Ahmad berkata, “Hajjaj
telah mengatakan kepada kami dan berkata, Laits telah mengatakan kepada kami
dan berkata, Uqail telah mangabarkan kepadaku dari Ibnu Syihab dari Yahya bin
Sa’id bin al-’Ash bahwa Sa’id bin al-’Ash telah menceritakan kepadaku bahwa
‘Aisyah Istri Nabi صلى الله عليه وسلم dan Utsman telah menceritakan kepadanya bahwa Abu Bakar me
minta izin kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan beliau sedang berbaring di tempat tidurnya sambil
berselimut dengan selimut ‘Aisyah رضي الله عنها Rasulullah
memberinya izin dan beliau masih dalam posisi semula. Setelah Abu Bakar
menyelesaikan hajatnya, ia pun pergi. Kemudian Umar datang meminta izin kepada
Rasulullah. Rasulullah صلى الله عليه وسلم memberinya izin dan beliau masih dalam posisi semula. Setelah
Umar menyelesaikan hajatnya, ia pun pergi. Lalu Utsman berkata, ‘Lantas aku pun
minta izin lalu Rasulullah duduk dan bersabda kepada ‘Aisyah, ‘Ambillah
selimutmu!’ Setelah aku menyelesaikan hajatku, akupun pergi. ‘Aisyah berkata,
‘Ya Rasulullah! Aku melihat engkau menyambut Abu Bakar dan Umar tidak seperti
sambutanmu terhadap Utsman?’ Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya
Utsman adalah seorang pemalu, aku khawatir jika aku menyambutnya dalam posisi
seperti itu, ia tidak jadi mengungkapkan keperluannya.’ Laits
berkata, ‘Sekelompok orang berkata, ‘Sesungguhnya Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda
kepada ‘Aisyah, “Tidakkah aku merasa
malu sebagaimana malunya malaikat terhadap dirinya?”.
Dzun Nurain
Beliau adalah menantu Rasulullah yang sangat dikasihi.
Memperoleh kemuliaan dengan menikahi dua putri Nabi, Ruqayyah kemudian Ummu
Kaltsum hingga mendapat julukan Dzunurain (pemilik dua cahaya). Bahkan
Rasulullah bersabda: “Seandainya aku
masih memiliki putri yang lain sungguh akan kunikahkan dia dengan Utsman.”
C.
Kematian
Utsman bin Affan RA
Utsman
Dibantai oleh Para Pemberontak
6
tahun pertama pemerintahan Utsman adalah pemerintahan yang begitu menyenangkan
dan menentramkan seluruh manusia. Utsman yang lembut dan kebijakan adil pada
zaman Umar menjadi penyebab kenyamanan itu.
6
tahun kedua pemerintahannya, adalah merupakan tahun-tahun sulit penuh fitnah.
Bahkan fitnah itu melebar hingga ke zaman kita dan sungguh tidak mudah diurai
oleh masyarakat awam.
DR.
Ali Muhammad ash-Shalabi (Utsman ibn Affan h. 146, MS) menukil dari ath-Thabari
dalam Tarikh al-Umam w al-Muluk dan Ibnu al-Atsir dalam al-Kamil fi al-Tarikh
keberadaan penggerak di balik layar fitnah yang ditujukan kepada Utsman. Orang
itu adalah Abdullah bin Saba’, seorang yahudi dari Yaman yang berkeliling
kota-kota Islam dari Hijaz, Bashrah, Kufah dan Syam untuk menyebarkan fitnah
seputar Utsman. Tetapi dia gagal total. Hingga saat dia pergi ke Mesir, di
sanalah fitnah itu mendapatkan pendukungnya. Dan menyebarlah fitnah itu.
Kelembutan
Utsman, membuat fitnah begitu mudah merajalela tanpa penghalang berarti.
Berbagai tuduhan menggelinding liar di kota-kota utama muslimin saat itu.
Hingga para pemberontak itu pun menuju kota Madinah untuk menurunkan Utsman
dari jabatannya. Ratusan orang berangkat ke Madinah dan mengepung rumah Utsman.
Sekitar 40 hari Utsman dikepung, dimulai dari bulan Syawwal 35 H. Hingga air
pun mereka halangi untuk masuk ke rumah Utsman. Berbagai upaya para shahabat
dan anak-anak mereka untuk melindungi Utsman tidak berdaya di hadapan tidak
kurang dari 600 orang itu.
Hingga
pada Waktu Ashar di Hari Jum’at 8 Dzulhijjah 35 H, para pemberontak itu berhasil
masuk ke dalam rumah Utsman melalui pintu lain. Kening Utsman ditusuk, bagian
bawah telinganya ditusuk hingga masuk ke kerongkongan, kemudian pedang
diayunkan untuk menebas utsman, robohlah Utsman dan melompatlah Amr bin Hamaq
menindih dada Utsman dengan menghunjamkan 9 tusukan.
Utsman
pun syahid, persis seperti yang pernah disampaikan oleh Rasul saat beliau masih
hidup. Mushaf yang sedang dibacanya, menjadi saksi bisu akan kebiadaban para
pembunuh itu. Darah mengalir di atas Surat al-Baqarah yang sedang dibukanya.
Tak
cukup hanya membunuh Utsman, mereka pun merampok harta yang ada di rumah Utsman.
Perilaku sangat biadab.
Para
shahabat terkejut. Ali bin Abi Thalib marah. Hingga dia mendatangi kedua
putranya Hasan dan menamparnya, juga Husain dan memukul dadanya, “Bagaimana Amirul Mukminin bisa terbunuh,
padahal kalian menjaga pintunya?”
Ali
mendatangi rumah Utsman. Para pemberontak itu ingin membaiat Ali. Tapi Ali
dengan marah berkata, “Demi Allah, saya
malu membaiat orang-orang yang telah membunuh Utsman. Dan saya malu kepada
Allah, dibaiat sementara Utsman belum dikubur.”
Mereka
yang menghalalkan darah Utsman dinyatakan oleh para ulama sebagai kafir.
Sementara yang tidak menghalalkan tetapi ikut berperan serta dalam kematian
Utsman dinyatakan sebagai fasik (Utsman ibn Affan, ash-Shalabi, h. 186, MS).
Sumber fitnah adalah Yahudi yang menyelusup ke dunia Islam untuk mengacaukan
ketentraman dan kemakmuran muslimin serta kemajuan Islam.
Fitnah itu akan terjadi
Wafatnya Umar bin Al-Khaththab adalah awal kemunculan
fitnah. Umar adalah pintu yang menutup fitnah. Begitu pintu dipatahkan,
gelombang fitnah akan terus menimpa umat ini, sebagaimana ditunjukkan dalam
hadits Hudzaifah bin Al-Yaman dalam Shahihain.
Pernahkah terbayang bahwa Utsman akan dibunuh dalam
keadaan terzalimi? Mungkin kita tidak membayangkannya. Tetapi demi Allah,
Utsman bin Affan telah mengetahui dirinya akan terbunuh, dengan kabar yang
diperolehnya dari kekasih Allah, Nabi Muhammad.
Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya meriwayatkan dari
Abdullah bin Umar, beliau berkata:
“Rasulullah pernah menyebutkan sebuah fitnah, lalu lewatlah seseorang. Beliau bersabda: “Pada fitnah itu, orang yang bertutup kepala ini akan terbunuh.” Berkata Ibnu ‘Umar:” Akupun melihat (orang itu), ternyata ia adalah ‘Utsman bin ‘Affan.”
Segala yang terjadi di muka bumi ini telah Allah tetapkan dan catat dalam Lauhul Mahfuzh. Sebagian dari takdir, Allah beritahukan kepada Rasul-Nya, termasuk berita terbunuhnya ‘Utsman bin ‘Affan dalam keadaan syahid. Utsman menunggu saat-saat itu dengan penuh ridha dan keyakinan.
“Rasulullah pernah menyebutkan sebuah fitnah, lalu lewatlah seseorang. Beliau bersabda: “Pada fitnah itu, orang yang bertutup kepala ini akan terbunuh.” Berkata Ibnu ‘Umar:” Akupun melihat (orang itu), ternyata ia adalah ‘Utsman bin ‘Affan.”
Segala yang terjadi di muka bumi ini telah Allah tetapkan dan catat dalam Lauhul Mahfuzh. Sebagian dari takdir, Allah beritahukan kepada Rasul-Nya, termasuk berita terbunuhnya ‘Utsman bin ‘Affan dalam keadaan syahid. Utsman menunggu saat-saat itu dengan penuh ridha dan keyakinan.
Rasulullah mengiringi berita tersebut dengan wasiat
tentang apa yang harus dilakukan saat fitnah menerpa, sebagaimana akan kita
lalui bersama sebagian riwayat tersebut. Maka berjalanlah Utsman dalam
menghadapi fitnah tersebut dengan memegang teguh wasiat Rasulullah.
Abdullah bin Saba’ di balik wafatnya Utsman bin Affan
Abdullah bin Saba’ atau Ibnu As-Sauda’ adalah seorang
Yahudi yang menampakkan keislaman di masa ‘Utsman bin ‘Affan. Dia muncul di
tengah-tengah muslimin dengan membawa makar yang sangat membahayakan, menebar
bara fitnah untuk memecah-belah barisan kaum muslimin.
Tidak mudah memang bagi Ibnu Saba’ menyalakan api di
tengah kejayaan Islam, di tengah kekuasaan Islam yang telah meluas ke seluruh
penjuru timur dan barat, di saat muslimin memiliki kewibawaan di mata
musuh-musuhnya kala itu. Namun setan tak pernah henti mengajak manusia menuju
jalan-jalan kesesatan, sebagaimana Iblis telah berkata di hadapan Allah:
Iblis menjawab: “Karena
Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan
(menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan
mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri
mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).”
(Al-A’raf: 16-17)
Ibnu Saba’ memulai makarnya bersama para pendukungnya
dengan menanamkan kebencian pada khalifah ‘Utsman bin Affan di tengah kaum yang
dungu lagi bodoh. Tujuannya pasti: Memudarkan kemulian-kemuliaan ‘Utsman bin
Affan di hadapan manusia dan menjatuhkan kewibawaan khalifah.
Kenapa orang-orang bodoh yang dituju? Karena mereka
itulah kaum yang tidak mengerti siapa Utsman. Mereka pula kelompok yang mudah
disetir hawa nafsunya. Demikianlah gaya dan model pemberontak. Sebelum
menggulingkan penguasa, mereka sebarkan kejelekan di tengah orang-orang bodoh,
membuat arus bawah yang sukar untuk dibendung.
Kaki Ibnu Sauda’ yang penuh kebengisan dan kedengkian
pada syariat Allah menjelajah negeri. Fitnahnya dia mulai dari Hijaz; Makkah,
Madinah, Thaif, lalu Bashrah, lalu Kufah. Kemudian masuklah ia ke wilayah
Damaskus (Syam). Usaha demi usaha dia tempuh di sana, namun impian belum mampu
ia wujudkan. Dia tidak kuasa menyalakan api kebencian terhadap khalifah ‘Utsman
di tengah-tengah kaum muslimin di negeri-negeri tersebut, hingga penduduk Syam
mengusirnya.
Dengan segala kebusukan, pergilah Ibnu Saba’ ke Mesir.
Di sanalah dia dapatkan tempat berdiam. Di tempat baru inilah dia dapatkan
lahan subur untuk membangun makar besarnya, menggulingkan khalifah Utsman dan
merusak agama Islam.
Mulai Ibnu Saba’ leluasa menghubungi munafiqin dan orang-orang
yang berpenyakit, hingga terkumpul massa dari penduduk Mesir dan Irak guna
membantu makarnya. Bersama pembantu-pembantunya, dia sebarkan
keyakinan-keyakinan menyimpang serta tuduhan-tuduhan dusta atas khalifah di
tengah-tengah kaum yang bodoh lagi menyimpan kemunafikan. Hingga suatu saat
nanti, terwujudlah cita-citanya: menumpahkan darah khalifah dan memecah-belah
barisan muslimin.
Syubhat Ibnu Saba’ untuk menjatuhkan kehormatan Utsman
bin Affan
Mereka yang mengetahui kemuliaan Utsman dari sabda
Rasulullah tidak akan terpengaruh hasutan Ibnu Saba’, sehingga tidaklah
mengherankan kalau dia tidak berhasil melakukan makarnya di tengah-tengah ahli
Madinah atau Makkah. Berbeda keadaannya di Mesir, ia berhasil menebar
syubhat-syubhat berisi celaan kepada Utsman bin ‘Affan, yang seandainya
diketahui hakikatnya justru merupakan keutamaan dan pujian atas Utsman bin
Affan. Namun ketika gelombang fitnah telah menggulung dan sabda Rasulullah
tidak lagi dihiraukan, banyak di antara juhhal (orang-orang bodoh) berjatuhan
menjadi korban.
Syubhat : ‘Utsman tidak mengikuti perang Badr. Ini
merupakan aib (cela) bagi Utsman, maka tidak pantas ia menjadi khalifah.
Utsman bin Affan memang tidak mengikuti perang Badr,
Ramadhan 2 H. Akan tetapi tidak ikutnya beliau dalam perang Badr bukanlah aib
sebagaimana sahabat-sahabat lain yang tidak mengikutinya juga tidak mendapat
celaan. Karena pada perang Badr Rasulullah tidak mengharuskan sahabat untuk
menyertai beliau. Terlebih lagi jika kita mengetahui sebab tidak ikutnya Utsman
dalam perang Badr.
Dalam perang Badr, Rasulullah memerintahkan Utsman
untuk tetap di rumah merawat istrinya, Ruqayyah, yang merupakan putri
Rasulullah. Maka jawablah dengan jujur: “Pantaskah seorang yang melaksanakan
perintah Rasul kemudian dicela dengan sebab itu?”
Bahkan sebaliknya, dengan melaksanakan perintah Rasul
beliau mendapat keutamaan taat di samping beliau juga mendapatkan keutamaan
ahlu Badr dan pahala mereka. Oleh karena itu, Rasulullah mengikutsertakan
Utsman dalam ghanimah Badr.
Suatu saat, seorang Khawarij bertanya kepada Abdullah
bin ‘Umar di Masjidil Haram: “Wahai Ibnu
‘Umar, apakah ‘Utsman mengikuti perang Badr? ” Ibnu ‘Umar menjawab: “Tidak.” Maka dengan girangnya dia
berseru: “Allahu Akbar!” –seolah-olah
dia dapatkan kebenaran celaan atas Utsman bin ‘Affan–. Dengan segera Ibnu ‘Umar
berkata kepadanya: “Adapun ketidakhadiran
Utsman dalam perang Badr karena putri Rasulullah –istrinya– sakit, (Rasul
perintahkan untuk merawatnya) dan beliau bersabda : “Sesungguhnya bagimu pahala
mereka yang mengikuti perang Badr dan bagimu pula bagian ghanimah.”
Atas dasar ini, ulama tarikh seperti Az-Zuhri, ‘Urwah
bin Az-Zubair, Musa bin ‘Uqbah, Ibnu Ishaq, dan lainnya memasukkan Utsman bin
Affan dalam barisan ahlu Badr (orang-orang yang mengikuti perang Badr).
Ahlu Mesir dan Irak terprovokasi untuk memberontak
Khalifah
Massa yang besar dari penduduk Mesir dan Irak
terkumpul, terbawa arus syubhat Ibnu Saba’. Mereka menuju Madinah dalam keadaan
membenci khalifah, bahkan bertekad menggulingkan kekhilafahannya karena menurut
mereka khalifah telah berkhianat.
Dalam perjalanan menuju Madinah, mereka mendengar bahwa Utsman bin ‘Affan berada di luar Madinah, maka mereka bersegera menemui ‘Utsman bin ‘Affan, di awal-awal bulan Dzulqa’dah 35 H.
Dalam perjalanan menuju Madinah, mereka mendengar bahwa Utsman bin ‘Affan berada di luar Madinah, maka mereka bersegera menemui ‘Utsman bin ‘Affan, di awal-awal bulan Dzulqa’dah 35 H.
Dengan penuh kearifan, keteduhan, dan kasih sayang,
Utsman menemui mereka, dan terjadilah dialog ilmiah, membantah syubhat-syubhat
juhhal. Dengan taufik Allah, Utsman mendinginkan hati-hati mereka yang membara.
Beliau juga membuat kesepakatan-kesepakatan dan perdamaian yang menentramkan
jiwa mereka. Mereka pun ridha untuk kembali ke negeri mereka.
Meninggalkan Utsman dan kisah surat palsu
Masa yang tadinya penuh kebencian, merasa puas dengan
jawaban-jawaban ‘Utsman dan kesepakatan tersebut. Mereka pun pergi untuk
kembali ke negeri mereka.
Kenyataan ini membuat geram para penyulut fitnah. Mereka memutar otak dan mencari-cari jalan menyalakan kembali api kebencian yang sempat padam yang sudah sangat lama mereka nanti. Dalam keadaan itu, segera mereka munculkan makar berikutnya yang demikian keji, yaitu: Surat palsu berisi kedustaan atas ‘Utsman bin Affan.
Kenyataan ini membuat geram para penyulut fitnah. Mereka memutar otak dan mencari-cari jalan menyalakan kembali api kebencian yang sempat padam yang sudah sangat lama mereka nanti. Dalam keadaan itu, segera mereka munculkan makar berikutnya yang demikian keji, yaitu: Surat palsu berisi kedustaan atas ‘Utsman bin Affan.
Dalam perjalanan kembali ke Mesir, mereka berpapasan
dengan seorang penunggang unta. Dia menampakkan bahwa dirinya melarikan diri,
seolah-olah berkata: “Tangkaplah aku.”
Mereka pun menangkapnya dan bertanya: “Ada apa
dengan engkau?” Dia katakan: “Aku
utusan Amirul Mukminin kepada amir Mesir.” Segera mereka periksa orang ini
hingga didapatkan padanya sebuah surat atas nama ‘Utsman bin Affan, berisi
perintah kepada amir Mesir agar menyalib, membunuh, dan memotong-motong tangan
orang-orang Mesir setibanya mereka dari Madinah.”
Dengan adanya surat palsu tersebut, api kebencian
kepada khalifah kembali berkobar dalam dada-dada kaum yang bodoh. Mereka
kembali menuju Madinah kemudian mereka kepung kediaman khalifah Ar-Rasyid
Utsman bin Affan. Mereka tidak lagi memercayai ‘Utsman meskipun telah bersumpah
bahwasanya beliau tidak pernah mengetahui apalagi menulis surat tersebut.
Tahukah kita apa yang diperbuat bughat pada orang
termulia di muka bumi saat itu dan ahli jannah yang masih bernafas di dunia?
Mereka paksa Utsman untuk melepaskan kekhilafahannya. Terwujudlah apa yang
disabdakan Rasulullah puluhan tahun silam akan datangnya masa di mana Utsman
bin Affan dipaksa melepas kekhilafahan.
Dengan tanpa kasih sayang, mereka halangi Utsman untuk shalat di Masjid Nabawi padahal beliaulah yang memperluas masjid di masa Rasulullah. Mereka halangi Utsman untuk minum dari air segar sumur Ar-Rumah yang beliau wakafkan untuk kaum muslimin. Caci-maki dan cercaan tertuju kepada beliau.
Dengan tanpa kasih sayang, mereka halangi Utsman untuk shalat di Masjid Nabawi padahal beliaulah yang memperluas masjid di masa Rasulullah. Mereka halangi Utsman untuk minum dari air segar sumur Ar-Rumah yang beliau wakafkan untuk kaum muslimin. Caci-maki dan cercaan tertuju kepada beliau.
Pembelaan sahabat
Sejatinya para sahabat hendak membela Utsman bin
Affan. Bahkan banyak di antara mereka menemani khalifah di rumahnya hingga hari
terakhir pengepungan. Riwayat-riwayat yang shahih menunjukkan kedatangan banyak
sahabat mengusulkan pembelaan dari kaum bughat. Di antara mereka adalah:
Haritsah bin Nu’man, Al-Mughirah bin Syu’bah, Abdullah bin Az-Zubair, Zaid bin
Tsabit, Al-Hasan bin ‘Ali, Abu Hurairah, dan lainnya.
Namun Utsman bin Affan telah mengambil sebuah
keputusan dan sikap yang merupakan wasiat Rasulullah untuk bersabar dan tidak
melepaskan kekhilafahan. Beliau tetap kokoh memegang sunnah (wasiat) Rasulullah
saat api fitnah telah berkobar di hadapannya. Abu Hurairah sempat datang dengan
pedangnya untuk melakukan pembelaan. Namun Utsman berkata: “Wahai Abu Hurairah, sukakah engkau jika
banyak manusia terbunuh dan aku juga terbunuh? Sungguh demi Allah, seandainya
engkau membunuh seorang manusia, seakan-akan engkau membunuh manusia seluruhnya.”
Pergilah Abu Hurairah melaksanakan nasihat ‘Utsman.
Dari Rasulullah, Utsman mengetahui syahadah yang akan diperolehnya. Suatu hari Rasulullah memanggil Utsman. Beliau bisikkan rahasia akan apa yang akan menimpanya dan apa yang seharusnya dilakukan saat fitnah menimpa. Rahasia itu memang tidak banyak tersingkap, melainkan beberapa yang dikabarkan Utsman bin ‘Affan di hari pengepungan.
Dari Rasulullah, Utsman mengetahui syahadah yang akan diperolehnya. Suatu hari Rasulullah memanggil Utsman. Beliau bisikkan rahasia akan apa yang akan menimpanya dan apa yang seharusnya dilakukan saat fitnah menimpa. Rahasia itu memang tidak banyak tersingkap, melainkan beberapa yang dikabarkan Utsman bin ‘Affan di hari pengepungan.
Al-Imam Ahmad dalam Al-Musnad (6/51-52) meriwayatkan
bahwa saat sahabat menawarkan Utsman bin Affan untuk memerangi pemberontak, mereka
berkata: “Wahai Amirul Mukminin, tidakkah
engkau perangi mereka?” Dengan penuh keyakinan beliau katakan: “Tidak (aku tidak akan perangi mereka),
karena sesungguhnya Rasulullah telah mengambil janji dariku, dan aku sabar di
atas janji itu.” Berkali-kali sahabat Rasulullah menawarkan perang melawan
pemberontak. Dengan penuh kearifan Utsman menolak, dan mengingatkan mereka
untuk taat kepadanya sebagai khalifah. Suatu ketaatan yang telah Allah
perintahkan atas mereka.
Mungkin ada di antara kita bertanya, kenapa Utsman
tidak melepaskan kekhilafahan agar terhindar dari fitnah ini? Bukankah kaum
pemberontak hanya ingin menggulingkan Utsman dari kekhilafahan?
Ketahuilah, hal ini pun telah Rasulullah n wasiatkan
dalam hadits yang shahih. Rasul bersabda:
“Dan jika mereka (pemberontak) memaksamu untuk melepaskan pakaian yang Allah
pakaikan kepadamu (yakni kekhilafahan), janganlah engkau lakukan.”
Dari riwayat-riwayat shahih terkait dengan fitnah pembunuhan Utsman bin Affan, disimpulkan bahwa sikap yang beliau pilih sesungguhnya kembali pada beberapa alasan. Di antaranya: Wasiat Rasulullah kepada ‘Utsman untuk tidak melepaskan kekhilafahan dan menghadapi fitnah dengan kesabaran.
Dari riwayat-riwayat shahih terkait dengan fitnah pembunuhan Utsman bin Affan, disimpulkan bahwa sikap yang beliau pilih sesungguhnya kembali pada beberapa alasan. Di antaranya: Wasiat Rasulullah kepada ‘Utsman untuk tidak melepaskan kekhilafahan dan menghadapi fitnah dengan kesabaran.
Beliau tidak ingin menjadi orang yang pertama kali
menumpahkan darah kaum muslimin, dan menjadi penyebab peperangan di antara
mereka. Sebagaimana tampak dalam riwayat Ahmad dalam Al-Musnad, beliau berkata:
“Aku tidak ingin menjadi orang pertama
sesudah Rasulullah yang menyebabkan pertumpahan darah di tengah umatnya.” Utsman
yakin bahwa yang diinginkan pemberontak adalah dirinya, maka beliau tidak ingin
menjadikan kaum muslimin sebagai tameng. Sebaliknya, beliau ingin menjadi
tameng untuk kaum muslimin agar tidak terjadi pertumpahan darah di tengah
mereka.
Utsman yakin bahwa fitnah akan redam dengan wafatnya
beliau, sebagaimana kabar yang Rasulullah sabdakan. Beliau juga merasa waktunya
telah dekat di saat beliau berumur 83 tahun, diperkuat dengan mimpinya bertemu
Rasulullah di hari pengepungan. Nasihat Abdullah bin Salam kepada beliau.
Abdullah berkata:
“Tahanlah, tahanlah (dari peperangan) karena dengan itu hujjahmu lebih mendalam.”
“Tahanlah, tahanlah (dari peperangan) karena dengan itu hujjahmu lebih mendalam.”
Syahadah yang Rasulullah kabarkan itu diraih Utsman
bin Affan
Pagi, Jum’at 12 Dzulhijjah, 35 H, di saat sebagian
besar sahabat menunaikan ibadah haji, pengepungan berlanjut. Hari itu ‘Utsman
berpuasa, setelah di malam harinya bertemu Rasulullah, dan dua sahabatnya: Abu
Bakar serta ‘Umar, dalam mimpi yang membahagiakan. Di mimpi itu Rasulullah
bersabda: “Wahai ‘Utsman, berbukalah
bersama kami.” Utsman pun terbangun dengan merasa bahagia dan berpuasa.
Pagi itu Utsman berada di rumah bersama sejumlah
sahabat yang terus bersikukuh hendak membela beliau dari kezaliman bughat. Di
antara mereka adalah Al-Hasan bin ‘Ali, ‘Abdullah bin Umar, Abdullah bin
Az-Zubair, Abdullah bin ‘Amir bin Rabi’ah, dan sejumlah sahabat lainnya.
Dengan sangat, Utsman bin ‘Affan meminta mereka untuk
keluar dari rumah, menjauhkan diri dari fitnah. Amirul Mukminin melarang para
sahabat melakukan pembelaan dengan peperangan. Beliau tidak ingin terjadi
pertumpahan darah di tengah-tengah kaum muslimin hanya dengan sebab beliau.
Beliau tidak ingin ada sahabat-sahabat lain terbunuh dalam fitnah ini.
Setelah permintaan Utsman yang sangat kepada para
sahabat, akhirnya mereka meninggalkan rumah Amirul Mukminin hingga tidak ada
yang tersisa kecuali keluarga Utsman termasuk istri beliau, Na’ilah bintu
Furafishah.
Amirul Mukminin, Utsman bin ‘Affan tetap di atas
wasiat Rasul untuk tidak melepaskan kekhilafahan, baju yang telah Allah
pakaikan untuknya. Beliau pun tetap meminta sahabat untuk tidak melakukan
perlawanan, mengingat besarnya fitnah dan khawatir darah kaum muslimin
tertumpah. Inilah sikap yang terbaik: kesabaran, keyakinan, dan keteguhan di
atas petunjuk Rasulullah.
Utsman, beliau duduk bersimpuh di hadapan mushaf.
Beliau membacanya dalam keadaan berpuasa di hari itu. Tubuh yang telah tua,
rambut yang telah memutih, kulit yang telah mengeriput, usia yang telah
dihabiskan untuk Allah, berjihad menegakkan kalimat Allah di muka bumi, kini
duduk mentadaburi kalam Rabbul ‘Alamin. Beliau perintahkan untuk membuka pintu
rumah dengan harapan para pengepung tidak berbuat sekehendak hati mereka ketika
menyaksikan beliau beribadah kepada Allah, membaca Al-Qur’an.
Tetapi mereka ternyata orang yang telah keras hatinya.
Dalam suasana pengepungan dan kekacauan, masuklah seseorang hendak membunuh
khalifah. Orang ini datang dan menarik jenggot Ustman. Ustman dengan tenang
berkata "Jangan sentuh jenggotku
karena sesungguhnya ayahmu dulu menghormati jenggot ini."
Kemudian pemberontak itu melepaskannya karena dia
ingat bahwa bukan hanya ayahnya yang menghormati, tapi juga Rasulullah S.A.W.
dan setiap orang menghormati Ustman. Utsman pun berkata mengingatkan: “Wahai fulan, di antara aku dan dirimu ada
Kitabullah!” Diapun pergi meninggalkan Utsman, hingga datang orang lain
dari bani Sadus. Dan ketika Ustman R.A. melihat nya datang, dia segera
mengencangkan tali pengikat celananya, karena dia tidak ingin auratnya terlihat
di saat-saat terakhirnya.
Dengan penuh keberingasan, dia cekik leher khalifah
yang telah rapuh hingga sesak dada beliau dan terengah-engah nafas beliau, lalu
dia tebaskan pedang ke arah Utsman bin ‘Affan. Amirul Mukminin menlindungi diri
dari pedang dengan tangannya yang mulia, hingga terputus bercucuran darah. Saat
itu Utsman berkata: “Demi Allah, tangan
(yang kau potong ini) adalah tangan pertama yang mencatat surat-surat
mufashshal.”
Ya… beliau adalah pencatat wahyu Allah dari lisan
Rasulullah. Namun ucapan Utsman yang sesungguhnya nasihat –bagi orang yang memiliki
hati– tidak lagi dihiraukan. Darah mengalir pada mushaf tepat mengenai firman
Allah: “Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha
mendengar lagi Maha mengetahui.” (Al-Baqarah: 137)
Kemudian istrinya, Na'ilah berlari untuk melindungi
Utsman. Bukan hanya itu, jari jemari Na’ilah bintu Furafishah terpotong saat
melindungi suaminya dari tebasan pedang kaum bughat. Subhanallah, cermin
kesetiaan istri shalihah menghiasi tragedi berdarah di negeri Rasulullah.
Kemudian mereka menghujam dalam perut Ustman R.A.
dengan pedang! Lalu salah satu pemberontak menerjang dada Ustman R.A. dan
menusuknya 9 KALI! Dengan demikian wafatlah Ustman R.A. pada umur 83 tahun.
Terwujudlah sabda Rasulullah puluhan tahun silam.
Ketika itu, Rasulullah bersama dengan Abu Bakr, Umar, dan Utsman di atas Uhud,
tiba-tiba Uhud bergoncang. Rasul pun bersabda: “Diamlah wahai Uhud, yang berada di atasmu adalah seorang nabi, seorang
shiddiq, dan dua orang syahid.”
Allahu Akbar! Berbukalah Utsman bin Affan bersama
Rasulullah sebagaimana mimpinya di malam itu. Ta’bir mimpi pun tersingkap
sudah. Wafatlah khalifah Ar-Rasyid, di hari Jum’at, dalam usia 83 tahun.
Pergilah manusia termulia saat itu menemui ridha Allah dan ampunan-Nya. Menuju
jannah-Nya.
Seusai pembunuhan, berteriaklah laki-laki hitam
pembunuh ‘Utsman, mengangkat dan membentangkan dua tangannya seraya berkata “Akulah yang membunuh Na’tsal! “
Beberapa lama setelah Utsman dibunuh, para pemberontak
tidak memperbolehkan seorang pun untuk menguburkan jenazahnya. Pada akhirnya,
istri Rasulullah, Umayya Habiba menaiki tangga masjid Rasulullah dan berkata "Wahai pemberontak! Jika kalian tidak
mengizinkan kami untuk mengubur Ustman R.A., maka AKU ISTRI RASULULLAH S.A.W.,
AKU KEHENDAK RASULULLAH S.A.W., AKU KEKASIH RASULULLAH S.A.W., AKU IBU
ORANG-ORANG BERIMAN, akan turun ke jalan Madinah tanpa menutupi rambutku dan
AKU SENDIRI yang akan menguburkan Ustman!"
Dia tahu bahwa tidak ada satu pemberontak pun yang
berani terhadap istri Rasulullah S.A.W. Ka'ab ibn Malik R.A. meriwayatkan:
"Demi Allah, jika Umayya ibn Habiba
R.A. turun ke jalanan Madinah tanpa menutupi rambutnya, maka Allah akan
MENURUNKAN HUJAN BATU DARI LANGIT!" Dan ketika para pemberontak mendengar ancaman dari istri Rasulullah
S.A.W., mereka membolehkan jenazah Ustman dikuburkan oleh empat orang: Hasan
R.A., Hussain R.A., Ali R.A., dan Muhammad ibn Talha R.A. Dan ketika mereka
membawa jenazah Ustman untuk dikuburkan, para pemberontak mulai melempari batu
ke jenazah Ustman R.A.
Amrita bin Arta meriwayatkan "Ketika aku dan
Aisyah R.A. pulang dari berhaji, kami melihat Al-Qur'an dimana darah Utsman
terjatuh ke atasnya pada ayat 'Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan
Dialah Yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (Al-Baqarah: 137).'
Akibat dari kematian Ustman begitu besar,
sampai-sampai Hasan (cucu Rasulullah) meriwayatkan: "Aku melihat kakekku (Rasulullah) di dalam mimpi, dan dia berdiri di
hadapan Arsy Allah S.W.T. Dan inilah pertama kalinya aku melihatnya dalam mimpi
dimana dia terlihat khawatir. Kemudian Abu Bakar R.A. datang dari belakangnya
dan dia menempatkan tangannya di bahu Rasulullah S.A.W. Kemudian Umar R.A.
datang dari belakangnya dan dia menempatkan tangannya di bahu Abu Bakar
R.A. Tidak lama setelahnya, Ustman R.A. datang dan wajahnya yang
berlumuran darah. Tangannya menggenggam kepalanya dan dia berkata 'Wahai
Rasulullah, tanyakan kepada mereka karena dosa apakah mereka menjagalku seperti
seekor sapi?' Ketika Ustman R.A. berkata seperti ini, Arsy Allah mulai
bergetar! Kemudian dua sungai darah mengalir dari Arsy Allah S.W.T."
Pada hari kiamat, ada banyak orang yang gugur sebagai
syuhada. Untuk para syuhada itu, tanah tempatnya meninggal dunia akan bersaksi,
namun untuk Ustman ibn Affan, Al-Qur'an yang akan menjadi saksinya, karena dia
meninggal dunia tepat di hadapan sebuah Al-Qur'an! Asyhadu an-La ilaha
illallah, wa anna Muhammadan Rasulullah! Sabda Rasulullah bahwa Utsman
akan meraih jannah dengan cobaan yang menimpanya benar-benar terjadi. Abu Musa
Al-Asy’ari mengatakan bahwa: “Rasulullah memerintahkan Abu Musa untuk
memberi kabar gembira kepada Utsman dengan jannah, dengan ujian yang akan
menimpanya.”
Akhir kehidupan pembunuh-pembunuh ‘Utsman bin ‘Affan
R.A
Orang-orang yang memberontak Utsman R.A dan memiliki
andil dalam pembunuhan khalifah yang terzalimi mendapat hukuman pedih dari
Allah. Demikianlah akibat bagi mereka yang memusuhi wali-wali Allah. Benarlah
firman Allah dalam sebuah hadits Qudsi: “Barangsiapa
menyakiti wali-Ku, sungguh Aku umumkan perang dengannya…”
·
Khurqush bin Zuhair As-Sa’di dibunuh oleh ‘Ali bin Abi
Thalib pada perang Nahrawan tahun 39 H.
·
‘Alba’ bin Haitsam As-Sadusi dibunuh pada perang
Jamal.
·
Amr bin Al-Hamaq Al-Khuza’i hidup hingga tahun 51 H,
ia ditikam.
·
‘Umair bin Dhabi’ yang mematahkan tulang rusuk ‘Utsman,
hidup hingga zaman Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi, dia pun dibunuh. Demikian pula
para pembunuh Utsman yang selain mereka.
Wallahu a’lam.

Deh panjangnya ini postingan :D haha lanjutkan bro
ReplyDelete